MONUMEN THALA'AL BADRU 'ALAINA
Gema sebuah syair yang melintasi empat belas abad — Di dekat bekas pintu masuk utara Madinah, di kawasan Al-Qashwa.
Suatu malam di ambang dunia baru
September tahun 622. Nabi ﷺ dan sahabat setianya Abu Bakar Ash-Shiddiq (رضي الله عنه) mendekati Madinah di atas punggung unta, setelah lolos secara ajaib dari kejaran kaum Quraisy.
Tiba-tiba, di cakrawala, sosok-sosok muncul di atas bukit. Seluruh kota, Yatsrib, yang untuk pertama kalinya menjadi apa yang akan selamanya ia sandang: Madinatun Nabi — kota Nabi.
Dan di udara senja, terdengar alunan melodi. Suara anak-anak, kata riwayat, diiringi rebana: "Bulan purnama telah terbit di atas kami…"
Al-Qashwa, unta yang memilih tempat
Kawasan tempat monumen ini berdiri dinamai Al-Qashwa, unta kesayangan Nabi ﷺ. Di pintu masuk Madinah, beliau menolak memilih sendiri tempat untuk berhenti: "Biarkan ia berjalan, karena ia diperintah." Unta itu pun berhenti di sebidang tanah milik dua anak yatim, di tempat yang tak lama kemudian akan berdiri Masjid Nabawi ﷺ.
Syair yang terkenal
"Bulan purnama telah terbit di atas kami / Dari bukit-bukit perpisahan / Wajib bagi kami bersyukur / Selama ada penyeru yang berdoa kepada Allah."
Keaslian — mari kita jujur
Kisah ini, seindah apa pun, diriwayatkan dengan sanad yang dinilai lemah (dha'if). Dapat diterima sebagai narasi sejarah, tidak dapat dijadikan dalil agama.
Hadis yang BENAR-BENAR sahih
Anas bin Malik (رضي الله عنه), yang saat itu masih anak-anak, kelak menceritakan: "Aku tidak pernah melihat hari yang lebih indah dan lebih bercahaya daripada hari ketika Rasulullah ﷺ masuk ke tengah-tengah kami di Madinah. Dan aku tidak pernah melihat hari yang lebih gelap dan lebih muram daripada hari ketika beliau wafat meninggalkan kami." (HR. Tirmidzi no. 3618 — sanad sahih)