BENDERA TERBESAR DI MADINAH
Syahadat yang berkibar ditiup angin — Tiang raksasa yang menyambut setiap jemaah yang memasuki kota Nabi ﷺ.
Saat Anda menyadari ke mana Anda tiba
Anda berkendara dari bandara. Atau dari Makkah. Anda lelah. Lalu, tiba-tiba, di cakrawala, sesuatu menjulang ke langit. Sebuah tiang raksasa. Lebih tinggi dari semua bangunan di sekitarnya. Di puncaknya, bendera hijau melambai ditiup angin gurun. Dan di tengah warna hijau itu, dengan huruf putih, enam kata dalam bahasa Arab — kalimat paling agung bagi umat manusia:
لا إله إلا الله محمد رسول الله
Pada saat itu juga, semuanya menjadi jelas. Anda tidak lagi sedang bepergian. Anda sedang tiba.
Warna hijau
Dalam tradisi Islam, hijau adalah warna surga. Allah menggambarkan pakaian para penghuni surga dalam Al-Qur'an: "Mereka berpakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal." (QS. Al-Insan: 21). Kubah yang menaungi makam Nabi ﷺ berwarna hijau sejak masa Utsmaniyah.
Syahadat
Di tengah bendera, dengan kaligrafi Tsuluts putih yang anggun: "Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah." Nabi ﷺ bersabda: "Barang siapa yang akhir ucapannya Laa ilaaha illallaah, ia akan masuk surga." (HR. Abu Dawud no. 3116)
Pedang
Di bawah kalimat syahadat, sebilah pedang putih melambangkan keadilan, kekuatan dalam kebenaran, dan pembelaan terhadap iman.
Mengapa begitu menyentuh di Madinah
Di sini Anda membaca syahadat, dan beberapa kilometer dari situ, Nabi ﷺ beristirahat di bawah Kubah Hijau. Anda melihat tulisan "Muhammadur rasuulullaah", dan Anda benar-benar berada di kotanya. Pada saat itu, kata-kata bukan lagi sekadar kata-kata. Anda tidak lagi membaca syahadat. Anda merasakannya.
Beberapa angka
- Tinggi tiang: sekitar 100 hingga 170 meter
- Jarak pandang: terlihat dari jalan tol menuju kota
- Pencahayaan: diterangi pada malam hari · terlihat 24 jam