SUMUR BERSEJARAH KUNO — JALAN QUBA–JUMU'AH
Air yang diberkahi di jalur Nabi.
Jalan yang ditempuh Nabi ﷺ setiap hari Sabtu
Antara Masjid Quba dan Masjid Al-Jumu'ah (Masjid Jumat), terbentang jarak sekitar 4 kilometer. Inilah jalan yang berkali-kali ditempuh Nabi ﷺ — pertama untuk shalat Jumat pertama dalam Islam, kemudian untuk kunjungan mingguan beliau ke Quba (setiap hari Sabtu).
Di sepanjang jalan ini terdapat sumur-sumur. Nabi ﷺ berhenti di sana. Beliau minum darinya. Beliau memberi minum tunggangannya. Dan sebagian sumur itu — tradisi telah menjaganya — masih dapat dikenali hingga kini.
Mengapa ada sumur di jalan ini?
Madinah, seperti setiap kota di Arabia kuno, hidup di sekitar sumur-sumurnya. Tanpa air, tidak ada kebun kurma. Tanpa kebun kurma, tidak ada makanan. Tanpa makanan, tidak ada peradaban.
Hadis yang memuliakan sumur-sumur ini
Sebuah sabda Nabi yang terkenal mengingatkan pentingnya sumur secara spiritual: "Sedekah yang paling utama adalah air." (HR. Ibnu Majah no. 3684 · HR. Abu Dawud no. 1681)
Sa'd bin 'Ubadah (رضي الله عنه) bertanya kepada Nabi ﷺ: "Sedekah apa yang paling engkau sukai, wahai Rasulullah?" Nabi ﷺ menjawab: "Air." Sa'd pun menggali sebuah sumur dan berkata: "Ini sumur untuk Ummu Sa'd" — ibunya yang telah wafat. (HR. Nasa'i no. 3666)
Dari sinilah lahir tradisi Islam berabad-abad untuk menggali sumur sebagai sedekah jariyah (sedekah yang pahalanya terus mengalir). Utsman melakukannya untuk seluruh umat. Sa'd melakukannya untuk ibunya. Dan orang-orang biasa melakukannya untuk para musafir.
Pelajaran dari sumur-sumur ini
1. Kerendahan hati Islam dalam keseharian: seseorang yang berhenti di sebuah sumur, minum, lalu bersyukur kepada Allah atas air yang segar
2. Air sebagai karunia Ilahi: "Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air." (QS. Al-Anbiya': 30)
3. Kesinambungan sejarah: Anda meminum air yang sama dengan yang diminum para sahabat
Catatan kejujuran
Identifikasi yang tepat atas masing-masing sumur yang disebut "kuno" di jalan ini terkadang tidak pasti. Visite Arabie menampilkan sumur-sumur ini sebagai tempat yang dikenal dalam tradisi lisan Madinah, yang dibuktikan oleh para penulis sejarah setempat, tetapi tidak selalu disertai hadis sahih yang spesifik.