MASJID DAN BENTENG BANI WAQIF
Tempat berlindung jiwa-jiwa selama pengepungan.
Masjid yang kurang dikenal di samping Quba
Hanya beberapa langkah dari Masjid Quba, ada sebuah masjid yang dilewati begitu saja oleh sebagian besar jemaah. Padahal, masjid ini menyimpan dua kisah: kisah tentang shalat, dan kisah tentang perlindungan.
Inilah Masjid Bani Waqif. Dan tepat di sampingnya dahulu berdiri benteng mereka (utum) — salah satu dari sekian banyak tempat perlindungan dari batu yang dibangun suku-suku Madinah sebelum Islam.
Shalat Nabi ﷺ
Menurut riwayat Sirah yang dilestarikan oleh As-Samhudi dalam Wafa' al-Wafa, Nabi ﷺ pernah shalat di masjid ini saat beliau tinggal di Quba atau pada kunjungan-kunjungan beliau berikutnya ke kawasan ini.
Betapa besar kehormatan bagi sebuah kampung: pernah menjadi tempat Rasulullah ﷺ shalat.
Benteng selama pengepungan Khandaq
Namun kisah yang paling mengharukan dari tempat ini terjadi pada Perang Khandaq (tahun 5 Hijriah). Ketika 10.000 pasukan koalisi (al-Ahzab) bergerak menuju Madinah, mereka yang paling rentan harus dilindungi.
Madinah tidak memiliki benteng pusat. Tetapi Madinah memiliki benteng-benteng suku yang tersebar di seluruh kota. Benteng Bani Waqif menjadi salah satu tempat perlindungan utama bagi: perempuan, anak-anak kecil, orang tua, penyandang disabilitas, dan orang-orang yang terluka.
Selama satu bulan penuh, orang-orang yang rentan ini hidup di balik tembok tebal benteng, dalam ketakutan dan doa, sementara Nabi ﷺ dan para sahabat menggali parit.
Mengapa kisah ini begitu kuat
Kisah ini mengingatkan pada satu sisi Perang Khandaq yang sering terlupakan: sisi keluarga, kemanusiaan, dan kerapuhan. Di balik setiap pahlawan, ada seorang ibu, seorang istri, seorang tua renta, seorang penyandang disabilitas. Kemenangan Khandaq juga milik mereka.
Kisah terkenal Shafiyyah binti Abdul Muththalib
Selama pengepungan, di sebuah benteng serupa, berada Shafiyyah binti Abdul Muththalib (رضي الله عنها) — bibi Nabi ﷺ, saudari Hamzah, ibu Az-Zubair.
Seorang Yahudi dari Bani Quraizhah datang untuk memata-matai benteng itu. Shafiyyah — perempuan yang sudah lanjut usia namun pemberani — mengambil sebatang tiang kemah, turun ke halaman, dan membunuh mata-mata itu. Lalu ia berkata kepada sahabat yang ada di sana: "Pergilah ambil barang-barangnya. Aku tidak mau mengambil hartanya karena ia laki-laki dan aku perempuan." (Sirah Ibnu Hisyam)
Peristiwa ini — seorang perempuan lanjut usia membunuh mata-mata dengan sekali pukulan tiang kemah — adalah salah satu gambaran paling berkesan tentang keberanian muslimah.