GUA UHUD
Tempat berlindung Nabi ﷺ yang terluka.
Detik-detik paling berbahaya
Perang Uhud, tahun 3 Hijriah. Para pemanah telah meninggalkan pos mereka. Khalid bin al-Walid telah memutari pasukan Muslim. Bencana menimpa para sahabat.
Di tengah kekacauan, Nabi ﷺ terluka. Gigi bawah beliau patah. Pelindung kepala beliau menancap ke pipi beliau. Darah mengalir di wajah beliau yang mulia. Beberapa sahabat beliau gugur di sekeliling beliau — termasuk Hamzah, paman beliau.
Sebuah desas-desus menyebar di kalangan pasukan sekutu Makkah: “Muhammad telah terbunuh.”
Dalam detik-detik yang sangat berbahaya inilah Nabi ﷺ dan sekelompok kecil sahabat mundur ke sebuah gua kecil di lereng Gunung Uhud. Di sinilah tempatnya. Gua Uhud.
Perlindungan gua
Nabi ﷺ berlindung di gua ini bersama beberapa sahabat setia: Abu Bakar, Umar, Thalhah bin 'Ubaidillah, Sa'd bin Abi Waqqash, dan lainnya.
Di sinilah luka-luka Nabi ﷺ dirawat. Di sinilah Thalhah menangkis anak-anak panah dengan tangan kosong untuk melindungi Rasulullah ﷺ — tangannya lumpuh seumur hidup akibat serangan itu, dan beliau dijuluki “Thalhah al-Khair” dan “syahid yang masih hidup”.
Hadis tentang Thalhah
Jabir bin Abdullah (رضي الله عنه) meriwayatkan: “Pada hari Uhud, Nabi ﷺ tinggal sendirian bersama sekelompok kecil orang — sebelas orang dari kaum Anshar dan Thalhah bin 'Ubaidillah. Ketika musuh berhasil mendekati Nabi ﷺ, beliau bersabda: ‘Siapa yang akan menghalau mereka? Baginya Surga, atau ia akan menjadi temanku di Surga.’ Seorang dari kaum Anshar maju dan bertempur hingga terbunuh. Hal itu terus berulang hingga yang tersisa hanya Thalhah. Nabi ﷺ bersabda: ‘Siapa yang akan menghalau mereka?’ Thalhah berkata: ‘Saya!’ Dan beliau bertempur seperti sebelas orang.” (HR. Muslim no. 1789)
Darah Nabi ﷺ
Ibunda kita, Fatimah az-Zahra (رضي الله عنها), datang bersama para perempuan lain untuk merawat orang-orang yang terluka. Dialah yang membersihkan wajah ayahnya, dan ia melihat darah tidak berhenti mengalir.
Ali bin Abi Thalib (رضي الله عنه) membawa air dengan perisainya. Namun air saja tidak cukup.
Maka Fatimah mendapat sebuah gagasan. Ia mengambil sepotong tikar (dari daun kurma), membakarnya, lalu menempelkan abunya pada luka Nabi ﷺ. Darah pun berhenti. (HR. Bukhari no. 243 · HR. Muslim no. 1790)
Seorang putri merawat ayahnya. Darah Penutup Para Nabi mengalir di tanah Uhud. Salah satu momen paling mengharukan dalam seluruh Sirah.
Sabda Nabi ﷺ yang terluka
Ketika sedang dirawat, Nabi ﷺ mengangkat wajah beliau yang berlumuran darah ke langit dan bersabda: “Bagaimana mungkin beruntung suatu kaum yang melukai wajah Nabi mereka, padahal ia mengajak mereka kepada Allah?” (HR. Muslim no. 1791)
Saat itulah Allah menurunkan sebuah ayat teguran yang lembut: “Itu bukan menjadi urusanmu (Muhammad) apakah Allah menerima tobat mereka atau mengazab mereka.” (QS. Ali 'Imran: 128)
Allah mengingatkan Nabi ﷺ bahwa keputusan hanya milik Allah semata — bahkan ketika Rasul-Nya dilukai.
Para musuh yang kemudian masuk Islam
Inilah keindahan Islam: beberapa musuh yang bertempur di Uhud akhirnya masuk Islam: Khalid bin al-Walid (“Pedang Allah”), Abu Sufyan, Wahsyi (pembunuh Hamzah), Hindun binti 'Utbah. Islam tidak ingin membalas dendam atas Uhud. Islam mengislamkan Uhud. Itulah kebesarannya.