MASJID AS-SABAQ (MASJID PACUAN KUDA)
Masjid Pacuan Kuda.
Nabi ﷺ dan kuda
Banyak orang tidak tahu bahwa Nabi ﷺ sangat mencintai kuda. Dan bahwa beliau menyelenggarakan pacuan kuda di Madinah.
Inilah salah satu sisi kehidupan beliau yang terlupakan — sisi seorang manusia yang menyatu dengan zamannya, yang menekuni olahraga pada masanya, yang menikmati aktivitas fisik, dan yang tahu cara memberi penghargaan kepada yang terbaik dengan keadilan yang cermat.
Hadis yang sahih
Abdullah bin Umar (رضي الله عنه) meriwayatkan: "Rasulullah ﷺ mengadakan pacuan di antara kuda-kuda yang telah dilatih (al-mudhammar). Titik awalnya dari 'al-Hafya' dan finisnya di 'Tsaniyyatul Wada''. Dan di antara kuda-kuda yang tidak dilatih, titik awalnya dari Tsaniyyatul Wada' dan finisnya di Masjid Bani Zuraiq." (HR. Bukhari no. 2868 · HR. Muslim no. 1870)
Jarak antara Al-Hafya dan Tsaniyyatul Wada' sekitar 5 hingga 6 km. Untuk kuda yang tidak dilatih, sekitar 1 km. Nabi ﷺ menyesuaikan jarak dengan kondisi hewan — wujud kasih sayang beliau kepada kuda.
Pelajarannya
1. Olahraga itu halal dan dianjurkan — pacuan kuda, memanah, berenang, gulat, berjalan kaki
2. Keadilan lebih utama daripada sekadar persaingan — sesuaikan dengan kemampuan
3. Taruhan dalam perlombaan hanya dibolehkan dalam kasus tertentu — kuda, unta, memanah (manfaat militer)
"Tidak ada taruhan kecuali pada (lomba) kuku kuda, kaki unta, atau anak panah." (HR. Abu Dawud · Tirmidzi)
Mengapa masjid ini
Masjid As-Sabaq dibangun di lokasi tradisional garis finis pacuan kuda pada masa Nabi. Masjid ini mengingatkan bahwa:
1. Nabi ﷺ menjalani sepenuhnya kehidupan sebagai seorang lelaki Arab abad ke-7<sup>M</sup>
2. Islam bukan agama yang serba keras dan menyiksa diri — Islam adalah agama keseimbangan
3. Umat Islam lahir dalam budaya yang berlatih, bermain, berlari, tertawa, dan menyembah Allah bersama-sama