Saat berkemah di Hudaibiyah, 1.400 sahabat menderita kehausan yang hebat. Hanya ada satu sumur di kawasan itu, dan sumur itu hampir kering.
Para sahabat datang mengadu kepada Nabi ﷺ:
> "Wahai Rasulullah, kami tidak memiliki air selain yang ada di kantong-kantong air kami, dan sumur itu hampir kosong."
HR. Bukhari no. 4150
Nabi ﷺ bangkit, mendekati sumur itu, lalu: memasukkan tangannya yang diberkahi ke dalam air, berwudu di sumur itu, meludah ke dalamnya, dan berdoa kepada Allah. Seketika, air memancar deras dari sela-sela jarinya. Air itu naik hingga 1.400 sahabat dapat mandi, minum, dan memberi minum hewan-hewan mereka tanpa kekurangan.
Jabir bin Abdullah رضي الله عنه meriwayatkan:
> "Orang-orang kehausan pada hari Hudaibiyah. Nabi ﷺ memiliki sebuah bejana air di hadapannya, yang beliau gunakan untuk berwudu. Orang-orang bergegas mendatanginya. Beliau bertanya: 'Ada apa dengan kalian?' Mereka menjawab: 'Kami tidak memiliki air untuk berwudu maupun minum selain yang ada di hadapanmu.' Nabi ﷺ memasukkan tangannya ke dalam bejana itu, dan air pun mulai memancar dari sela-sela jarinya seperti mata air. Kami pun minum dan berwudu."
HR. Bukhari no. 3576 · HR. Muslim no. 1856
Ketika Jabir ditanya: "Berapa jumlah kalian pada hari itu?", ia menjawab:
> "Seribu lima ratus [kira-kira]. Seandainya kami berjumlah seratus ribu, itu pun akan mencukupi."
HR. Bukhari no. 4152
Mukjizat ini menegaskan kebenaran kenabian melalui tanda fisik, keberkahan di tangan Nabi ﷺ, dan pertolongan Allah di saat-saat ujian.
Sumur ini masih ada di situs bersejarahnya, tetapi telah mengalami perubahan selama berabad-abad. Kini sumur ini dilindungi oleh pemerintah Saudi sebagai warisan sejarah Islam.