Di sinilah, di tempat suci At-Tan'im ini — tepat di tempat berdirinya Masjid Aisyah رضي الله عنها hari ini — langit menyaksikan sahabat pertama yang disalib karena Allah. Namanya: Khubaib bin 'Adi al-Anshari رضي الله عنه.
Hamba yang dikhianati
Khubaib adalah seorang Anshar dari Madinah, dari suku Aus yang mulia. Dalam Perang Badar (2 H / 624 M), ia berperang di jalan Allah dan membunuh seorang pemimpin Quraisy: Al-Harits bin 'Amir bin Naufal.
Dua tahun kemudian, pada tahun 4 H (625 M), orang-orang dari suku 'Adhal dan al-Qarah datang menemui Nabi ﷺ dan berkata:
"Wahai Rasulullah, di antara kami ada orang-orang yang telah masuk Islam. Utuslah bersama kami orang-orang yang mengajarkan agama kepada kami, membacakan Al-Qur'an kepada kami, dan mengajari kami hukum-hukum Islam."
Nabi ﷺ, dengan penuh kepercayaan terhadap permintaan yang tampak tulus ini, mengutus sepuluh sahabat terbaik, dipimpin oleh 'Ashim bin Tsabit رضي الله عنه.
📚 HR. Bukhari no. 4086 · Ibnu Hisyam · As-Sirah An-Nabawiyyah
Pengkhianatan di Ar-Raji'
Ketika rombongan tiba di Ar-Raji' (sebuah mata air antara 'Usfan dan Makkah), para tuan rumah yang mengaku itu ternyata adalah para pengkhianat. Mereka memanggil sekutu mereka dari Bani Lahyan — sekitar 100 pemanah — yang mengepung kesepuluh sahabat itu.
'Ashim bin Tsabit رضي الله عنه, melihat jebakan itu, naik ke sebuah bukit bersama para sahabatnya dan menolak menyerah:
"Demi Allah, aku tidak akan turun di bawah perlindungan seorang kafir!"
Tujuh sahabat gugur sebagai syuhada di bawah hujan anak panah, termasuk 'Ashim. Allah kemudian mengirim segerombolan lebah untuk melindungi jasadnya dari pencincangan, dan banjir yang datang sebagai pertolongan membawa jenazahnya jauh dari musuh.
📚 HR. Bukhari no. 4086
Tiga sahabat yang selamat — Khubaib bin 'Adi, Zaid bin ad-Datsinah, dan seorang sahabat ketiga — turun dengan janji perlindungan. Begitu tiba di bawah, musuh mengikat mereka. Sahabat ketiga langsung memahami pengkhianatan kedua itu dan menyatakan:
"Inilah pengkhianatan mereka yang pertama. Demi Allah, aku tidak akan mengikuti kalian — aku memiliki teladan yang baik pada saudara-saudaraku."
Ia dibunuh di tempat. Adapun Khubaib dan Zaid, mereka dibawa dan dijual kepada kaum Quraisy seperti hewan ternak di pasar-pasar Makkah.
📚 Ibnu Hisyam · As-Sirah · Thabaqat Ibnu Sa'd
Tawanan putra-putra Al-Harits
Putra-putra Al-Harits — yang ayahnya terbunuh di Badar oleh Khubaib — membelinya untuk membunuhnya sebagai balas dendam. Mereka memenjarakannya di rumah mereka di Makkah, menunggu berakhirnya bulan-bulan haram ketika darah tidak boleh ditumpahkan.
Selama penawanan ini, terjadi sebuah peristiwa yang mengguncang. Putri Al-Harits, yang mengawasinya, kemudian menceritakan:
"Demi Allah, aku tidak pernah melihat tawanan yang lebih baik daripada Khubaib. Suatu hari aku melihatnya memakan setandan anggur yang dipegang di tangannya, padahal ia terbelenggu, dan saat itu tidak ada anggur di Makkah. Itu tidak lain adalah rezeki yang Allah berikan kepadanya."
📚 HR. Bukhari no. 3045 · no. 4086
Ketika saat eksekusi tiba, Khubaib meminta sebilah pisau cukur untuk bersuci. Ia berkata dengan penuh martabat:
"Orang-orang mulia tidak memperlakukan tawanan mereka seperti ini."
Para penawannya, dengan rasa malu, memberikan apa yang dimintanya.
Perjalanan menuju At-Tan'im
Hari yang menentukan pun tiba. Kaum Quraisy membawa Khubaib keluar dari Tanah Haram — karena bahkan mereka pun menghormati kesucian Makkah di mana darah tidak boleh tertumpah. Mereka membawanya ke At-Tan'im, di perbatasan tanah suci, tempat yang sama di mana kita berdiri hari ini.
Seluruh Makkah berbondong-bondong datang: laki-laki, perempuan, anak-anak, budak. Sebagian datang untuk balas dendam, sebagian untuk tontonan, sebagian lagi karena kebencian terhadap Islam. Tidak ada yang tinggal di kota.
📚 Thabaqat Ibnu Sa'd
Mereka menancapkan sebatang kayu panjang di tanah — sebuah salib darurat. Di hadapan kerumunan yang histeris, Khubaib mengangkat pandangannya dan berkata dengan ketenangan yang mengguncang:
"Izinkan aku salat dua rakaat."
Mereka mengizinkannya.
Dua rakaat yang mengubah Islam
Khubaib menghadap ke arah Ka'bah, yang samar-samar terlihat di kejauhan, dan salat dua rakaat — singkat, tenang, sempurna. Ketika ia bangkit, ia menyatakan kepada kerumunan itu ucapan abadi ini:
"Demi Allah, seandainya aku tidak khawatir kalian mengira bahwa aku memperpanjang salatku karena takut mati, niscaya aku akan memperpanjangnya."
📚 HR. Bukhari no. 4086 · HR. Muslim
Perbuatan sederhana ini, yang dilakukan di bawah salib, menjadi sebuah sunnah: sejak hari itu, setiap Muslim yang dijatuhi hukuman mati dianjurkan untuk salat dua rakaat sebelum eksekusi. Khubaib-lah yang merintis tradisi ini.
Doa sang syahid
Ketika ia diikat di salib, Khubaib mengangkat kedua tangannya ke langit, dan di hadapan para algojonya ia mengucapkan doa yang diriwayatkan Shahih al-Bukhari ini:
"اللَّهُمَّ أَحْصِهِمْ عَدَدًا، وَاقْتُلْهُمْ بَدَدًا، وَلَا تُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَدًا"
Allâhumma ahshihim 'adadan, waqtulhum badadan, wa lâ tughâdir minhum ahadâ
"Ya Allah, hitunglah mereka satu per satu, bunuhlah mereka secara tercerai-berai, dan jangan sisakan seorang pun dari mereka!"
📚 HR. Bukhari no. 4086
Dan sejarah mencatat bahwa tidak seorang pun dari orang-orang yang menyalib Khubaib meninggal secara wajar setelah itu. Allah mengabulkan doa hamba-Nya yang syahid.
Bait-bait terakhir
Sementara tombak-tombak mulai mencabik tubuhnya, Khubaib mulai melantunkan bait-bait syair yang keindahannya meremukkan hati:
"Jika aku terbunuh sebagai seorang Muslim,
Aku tidak peduli di sisi mana aku jatuh karena Allah.
Semua ini adalah demi Tuhanku,
Dan jika Dia berkehendak, Dia akan memberkahi setiap anggota tubuh yang tercabik."
📚 Ibnu Hisyam · As-Sirah · Thabaqat Ibnu Sa'd
Ujian terakhir — kesetiaan mutlak
Di tengah siksaannya, Abu Sufyan maju dan bertanya kepadanya — sebagaimana orang meminta seorang yang sekarat untuk murtad:
"Wahai Khubaib, tidakkah engkau lebih suka berada di rumah bersama keluargamu dengan selamat, dan Muhammad yang menggantikan tempatmu?"
Dengan tubuh tercabik-cabik, darah mengalir dari luka-lukanya, Khubaib menjawab dengan segenap kekuatan yang tersisa:
"Demi Allah! Aku tidak rela sekalipun Rasulullah ﷺ tertusuk sebatang duri sementara aku berada dengan selamat di rumahku!"
Abu Sufyan, tersentuh hingga ke sumsum tulangnya, menyatakan:
"Aku tidak pernah melihat seorang pun mencintai seseorang sebagaimana para sahabat Muhammad mencintainya."
📚 HR. Bukhari no. 4086 · Thabaqat Ibnu Sa'd
Maka 'Uqbah bin al-Harits mendekat dan memberinya pukulan maut. Khubaib bin 'Adi al-Anshari رضي الله عنه, kekasih Allah, orang pertama yang disalib demi agama ini, menyerahkan jiwanya kepada Tuhannya.
Salam yang melintasi langit
Pada saat-saat terakhirnya, Khubaib telah berkata:
"Ya Allah, sampaikanlah salamku kepada Rasulullah ﷺ!"
Pada saat yang sama, di Madinah, Nabi ﷺ sedang duduk bersama para sahabatnya. Tiba-tiba beliau mengangkat kepala dan berkata:
"Wa 'alaika as-salam, wahai Khubaib."
Lalu beliau menoleh kepada para sahabat dan mengabarkan kepada mereka: "Khubaib baru saja dibunuh."
📚 Fathul Bari Syarah al-Bukhari · Hadis no. 4086
Allah, dengan karunia-Nya, telah menyampaikan salam seorang yang sekarat di atas salib kepada Kekasih-Nya ﷺ — melintasi gurun, melintasi lembah, melampaui gunung-gunung.
Kembalinya jenazah
Nabi ﷺ kemudian mengutus 'Amr bin Umayyah adh-Dhamri untuk mengambil jenazah Khubaib. Pada malam hari, sahabat ini melepaskan jenazah itu dari salib dan melarikan diri ke padang pasir. Ketika ditanya mengapa ia melakukannya seorang diri, meskipun berbahaya:
"Agar tidak ada seorang Muslim pun yang dibiarkan terpampang di salib orang-orang kafir."
📚 Thabari · Tarikh · As-Sirah Ibnu Hisyam
Mengapa mengunjungi tempat ini
Ketika Anda berdiri di At-Tan'im, saudaraku, Anda berdiri di tempat seorang laki-laki memilih kematian daripada melihat sebatang duri pun melukai kaki Nabi ﷺ. Anda berdiri di tempat di mana:
Seorang laki-laki disalib karena Allah — yang pertama dari umat ini
Seorang laki-laki salat dua rakaat di bawah salib dengan ketenangan bak malaikat
Seorang laki-laki merintis sebuah sunnah yang bertahan selama 14 abad
Seorang laki-laki mengirimkan salamnya kepada Nabi ﷺ dari atas salibnya, dan Allah menyampaikannya
Seorang laki-laki berdoa melawan para algojonya dan dikabulkan
Di sini pula Aisyah binti Abi Bakar رضي الله عنها, bertahun-tahun kemudian, datang berihram untuk umrahnya bersama saudaranya 'Abdurrahman — atas perintah Nabi ﷺ. Tanah yang sama yang telah menyaksikan darah Khubaib kemudian menyaksikan Ummul Mukminin memasuki keadaan suci ihram.
📚 HR. Bukhari no. 1556
Sumber utama
HR. Bukhari no. 4086 (Kitab al-Maghazi — kisah lengkap Ar-Raji')
HR. Bukhari no. 3045 (10 sahabat yang diutus)
HR. Bukhari no. 1556 (Aisyah di At-Tan'im)
HR. Muslim (2 rakaat sebelum eksekusi)
Fathul Bari Syarah al-Bukhari (Ibnu Hajar al-'Asqalani)
As-Sirah An-Nabawiyyah (Ibnu Hisyam)
Thabaqat al-Kubra (Ibnu Sa'd)
Tarikh ath-Thabari
Usdul Ghabah (Ibnul Atsir al-Jazari)
Semoga kedamaian Allah tercurah atas Rasul-Nya Muhammad ﷺ, dan semoga Dia meridai Khubaib bin 'Adi al-Anshari, hamba-Nya yang pertama disalib karena-Nya.
"Wa lâ tahsabanna alladzîna qutilû fî sabîlillahi amwâtâ — bal ahyâ'un 'inda Rabbihim yurzaqûn."
"Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Sebenarnya, mereka itu hidup dan dianugerahi rezeki di sisi Tuhannya." (QS 3:169)